Pagi baru saja tiba ketika Lala duduk di tangga rumah neneknya. Di depannya, Sungai Kahayan mengalir tenang. Cahaya matahari memantul seperti potongan emas di permukaan air.
“Nek, mengapa orang-orang selalu bercerita tentang sungai ini?” tanya Lala. Nenek tersenyum dan duduk di sampingnya. “Karena sungai menyimpan banyak perjumpaan. Dahulu, orang membawa hasil kebun dengan perahu. Mereka bertukar kabar, saling membantu, dan belajar mengenal satu sama lain.”
Lala memperhatikan sebuah perahu kecil mendekat. Seorang bapak membawa keranjang sayur. Di tepi sungai, tetangga mereka menunggu sambil melambaikan tangan. Lala baru mengerti: sungai bukan hanya air yang bergerak, tetapi juga jalan yang menghubungkan manusia.
Siang itu, Lala membantu nenek membersihkan tepian rumah. Mereka mengumpulkan sampah agar tidak hanyut ke sungai. “Kalau sungai memberi kita kehidupan, kita juga perlu menjaganya,” kata nenek.
Sore harinya, Lala membuka buku tulisnya. Ia menulis tentang perahu, sayur, dan senyum tetangga. Ia menulis tentang nenek dan air yang berkilau. Untuk pertama kalinya, ia merasa cerita tidak selalu datang dari tempat yang jauh. Kadang-kadang, cerita ada tepat di depan rumah.
Cerita fiksi orisinal terinspirasi kehidupan di tepian Kahayan; bukan dokumentasi legenda atau sejarah masyarakat Dayak.